Jumat, 16 Maret 2012

Holly Grail

Antara Khayalan dan Kepercayaan


 


Holy Grail, dalam literatur Medieval, Cawan Suci yang digunakan Yesus Kristus saat perjamuan terakhir. Dalam legenda Arthurian – berkaitan dengan King Arthur dari Inggris, ksatria-ksatria king Arthur berangkat dalam tugas pencarian Grail. Menurut tradisi, Joseph of Arimathea menyimpan Grail setelah perjamuan terakhir dan untuk menampung darah Yesus saat penyaliban. Setelah dibawa  ke Inggris, benda ini diturun-temurunkan dari generasi ke generasi dalam keluarga Joseph. Grail diyakini memiliki banyak keajaiban. Ia dapat menyediakan makanan bagi mereka yang tidak berdosa,  dapat membutakan hati yang kotor dan mengunci mulut bagi mereka yang tidak berhak untuk mendapatkannya.
Dalam Injil, cawan yang digunakan Yesus Kristus pada perjamuan terakhir tidak lebih dari sebuah benda, tidak memberikan perhatian khusus. Tapi berabad-berabad kemudian, cerita tentang benda legendaris ini, yang terkenal dengan nama Holy Grail, telah menjadi sebuah cerita dari legenda king Arthur sampai ke legenda Indiana Jones and the last crusade.
Karena Yesus sendiri yang menggunakan cawan tersebut saat perjamuan terakhir, maka ia menjadi sebuah simbol bagi pemeluk kristiani, sebuah relik yang sangat suci.
Banyak teori yang mengatakan dimana sebenarnya cawan ini berada. Salah satunya mengatakan bahwa  Knights Templar, kesatuan militer medieval yang berdiri selama lebih dari 200 tahun, membawanya keluar dari Yerusalem pada saat Holy Crusade.
Ada juga cerita yang mengatakan kalau Joseph sendiri yang membawa Grail tersebut ke Glastonbury , basis militer Romawi yang ada di Inggris diwaktu penyaliban Yesus. Tahun 1906, sebuah cawan biru yang diklaim sebagai Grail ditemukan disana, dan sejak itu ada 4 (empat) cawan lain yang juga dikalim sebagai Grail, 2 (dua) dari Inggris dan Wales dan 2 (dua) dari Timur Tengah.
Tapi kenyataannya adalah, seperti yang dikatakan sejarawan Richard Barber, pengarang buku The Holy Grail : Imagination and Belief, bahwa kisah Grail hanyalah sebuah cerita.
Percival And The Grail
Holy grail pertama kali memliki peran utama dalam literatur Arthurian dalam sebuah drama romansa Perceval, ou le conte du graal (Percival, or the Story of the Grail, 1190?) oleh sastrawan Prancis Chretien de Troyes. Dimasa mudanya, percival berkeinginan untuk menjadi ksatria dalam kerajaan King Arthur. Dan dalam satu perjalanannya ia sampai pada sebuah Castle of The Fisher King,
Saat Percival memasuki Kastil King Fisher, ia melihat sebuah iring-iringan yang membawa tombak berdarah, yang melukai Yesus saat disalib, dan The Holy Grail lewat didepan sang Raja. Sang raja pun kemudian mengunci mulutnya dihadapan cawan suci. Merasa takjub, Percival gagal menanyakan apa maksud dari kejadian tidak biasa tersebut. Lama kemudian, ia belajar bahwa jika ia adalah seorang yang berhati bersih dan jiwa yang tak bersalah, Raja tersebut pastilah akan mengobatinya. Setelah berkelana kesana kemari,  Percival kembali ke hadapan King Fisher dengan membawa pedang yang telah hancur, atau dalam versi lainnya, percival mengembalikan kemampuan berbicaranya dihadapan sang raja, dan menjadi penggantinya.
Dalam legenda yang lain, ksatria Galahad, seorang yang sama sekali bersih dari dosa, pada akhirnya benar-benar menemukan Holy Grail dan mengakhiri tugas pencarian tersebut. Percival dan Ksatria lainnya menemani Galahad, tapi tidak ikut bersamanya ketika Galahad sendirian mendekatkan dirinya pada Grail.
“Kisah dengan imajinasi mengesankan”
“Seluruh bagian Grail pada dasarnya adalah imajinasi sastra abad ke-12” kata Richard Barber.
Faktanya, Barber mengatakan bahwa hal yang paling berkesan dari legenda Grail adalah kenyataan bahwa cerita ini berawal hanya dari satu pengarang. “ Ada banyak orang diluar sana yang mencari benda tersebut,” ia menambahkan, “ Sebenarnya hal yang paling menarik adalah bahwa seseorang dapat membayangkan sesuatu diabad ke-12… dan tetap menjadi buah bibir 800 tahun kemudian”.
Dalam mengerjakan karyanya, Chretien berkhayal dari masanya ia hidup saat itu kebelakang diwaktu masa waktu Yesus masih hidup. “ jadi kamu akan menemukan sebuah karya sastra dengan imajinasi mengesankan oleh seorang yang menemukan ide tentang Grail”. Kata Barber.
Itu berarti bahwa ini tidaklah hanya sebuah cawan. Akan tetapi seandainya memang benar ada, Barber bertanya, bagaimana kamu bisa tahu bahwa kamu telah menemukannya? “Kamu tidak akan menemukan sebuah cawan dengan label yang bertuliskan : ‘Ini Adalah Cawan Perjamuan Terakhir, Keaslian Terjamin”
Arkeologis Fred Hiebert, seorang anggota National Geographic, setuju bahwa “ aku selau tertarik untuk menemukan sisa-sisa peninggalan masyarakat kuno, khususnya yang berbentuk gerabah dan barang-barang logam lainnnya”, ia berkata. Akan tetapi bila hal tersebut berhubungan dengan legenda spesifik atau kisah keagamaan? “Kami tidak dapat melakukannya”, tambah Hiebert.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo